Rabu, 06 Agustus 2014

Metode Standard Color Range

Metode Standard Color Range - Sekarang kita akan membahas tentang warna dalam dunia percetakan. Di dunia percetakan kemasan ada istilah Standard Color Range yang berisikan 3 jenis kualitas hasil cetak, yaitu Minimum, Standard, dan Maksimum yang akan berfungsi sebagai pedoman warna baik untuk operator dan customer itu sendiri. Pada umumnya sebuah percetakan kemasan akan membuat beberapa Standard Color Range dengan batas waktu tertentu (1-2 tahun tergantung kebijakan perusahaan masing-masing). Namun sayangnya metode pembuatan Standard Color Range tidak dilakukan dengan menggunakan ukuran-ukuran tertentu, seperti Density, TVI, dan warna dengan nilai CIE L*a*b* (dilakukan dengan menggunakan insting operator cetak), sehingga range toleransi bisa terlalu lebar. Selain tidak terukur, batas waktu yang ditentukan untuk sebuah Standard Color Range nyatanya juga tidak menjamin keabsahannya, karena dalam kurun periode waktu tertentu seiring dengan penggunaannya, warna tinta yang ada di cetakan akan memudar yang disebabkan karena gesekan, sinar matahari, dsb. Dan ketika hal ini terjadi, perdebatan pun muncul dan sulit untuk mengambil jalan tengah karena tidak ada nilai yang bisa diukur untuk membuktikan apakah Standard Color Range tersebut masih berlaku atau tidak.
Terlepas dari sisi ekonomis, dalam membuat Color Guide yang benar, metode yang dilakukan pun harus benar, yaitu dengan mencatat dan mengukur. Pencatatan dan pengukuran diperlukan sebagai dokumentasi untuk memudahkan proses produksi.

Metode Standard Color Range

Pengukuran yang dilakukan untuk membuat Standard Color Range adalah :
a. Density (Kepekatan)
Angka density digunakan sebagai pedoman oleh operator dalam mencetak. Dalam proses cetak operator tidak dapat mengubah warna, yang dapat dilakukan hanyalah mengatur ketebalan tinta yang diwakili oleh angka density.

b. TVI (Tone Value Increament)
Adalah penambahan nilai nada. Penambahan nilai nada ini tidak dapat dihindari karena image yang dipindahkan ke material cetak mendapatkan tekanan dalam proses pemindahannya yang menyebabkan bentuk raster mengembang dari semula. Selain itu juga daya serap kertas dan daya alir tinta juga mempengaruhi proses pembesaran nilai nada ini.

c. CIE L*a*b* (Warna)
Adalah sebuah ruang warna yang di definisikan oleh CIE (sebuah konsorsium) dimana
CIE L* mewakili nilai kecerahan warna, 0 untuk hitam, dan 100 untuk putih
CIE a* mewakili jenis warna merah dan hijau, dimana negatif a* mewakili warna hijau, dan positif a* mewakili warna merah
CIE b* mewakili jenis warna kuning dan biru, dimana negatif b* mewakili warna biru, dan positif b* mewakili warna kuning. (http://pengantar-warna.blogspot.com/2011/02/colorimetry-part-ii-cie1976-ruang-warna.html)
Berdasarkan nilai CIE L*a*b* perbedaan warna dapat dihitung dan dinyatakan dalam sebuah nilai ΔE. Δ = Delta adalah huruf Yunani yang sering dipergunakan sebagai simbol jarak atau perbedaan dan E = singkatan dari kata dalam bahasa Jerman Empfindung yang berarti sensasi.
(pengantar-warna.blogspot.com/2011/03/colorimetry-part-iii-color-difference.html).
Sehingga dari hasil perhitungan dE ini dapat dibuat sebuah kesepakatan mengenai toleransi perbedaan warna yang dapat diterima.

Apabila ketiga hal ini dilakukan maka kualitas sebuah Standard Color Range dapat dinilai dan dapat di verifikasi keabsahannya. Dan untuk menerbitkannya kembali tidak mengalami kesulitan, karena angka-angka pengukurannya tercatat. (facebook.com/pages/Milimatter/458062947559246?ref=br_tf)
sumber (pengantar-warna.blogspot.com/)